Ilmuwan Australia Sukses Obati Kanker Otak Agresif

Brisbane, Australia, Makin tinggi stadiumnya, harapan untuk sembuh dari kanker biasanya sangat kecil, apalagi jika kankernya agresif. Namun baru-baru ini sekelompok ilmuwan dari Australia mengklaim berhasil menyembuhkan pasien kanker otak agresif.

Ilmuwan Australia Sukses Obati Kanker Otak Agresif

Dengan apa mereka menyembuhkannya? Helen pertama kali didiagnosis mengidap kanker otak agresif bernama Glioblastoma Multiforme atau GBM di tahun 2011. Istri dari Peter Easton itu langsung diberitahu oleh dokter bahwa hidupnya takkan lebih dari enam bulan.

Menurut Peter, setelah itu istrinya menjalani dua kali operasi dan diminta memulai percobaan imunoterapi.

"Ia menjalani operasi pertamanya dua hari setelah didiagnosis dan setelah operasi kedua namun kankernya kembali lagi dalam kurun 12 bulan. Pasca operasi kedua, ia ditawari untuk ikut dalam program T-cell dan sejak saat itu kankernya tak pernah kembali lagi dan Helen mulai hidup normal. Walau tak seaktif dulu, tapi ia masih bisa memasak dan melakukan hal-hal lain," kisah Peter.

Ternyata Helen terlibat dalam sebuah percobaan klinis yang dilakukan tim peneliti dari QIMR Berghofer Medical Research Institute di Brisbane. Percobaan di mana peneliti memanfaatkan sel darah putih pasien untuk mengobati penyakit kronisnya ini berlangsung selama empat tahun.

"Ini adalah percobaan pertama di dunia, terutama yang menargetkan kanker otak paling ganas ini. Jadi kami melatih sel darah putih pasien agar bisa melawan penyakitnya," tutur ketua tim peneliti Profesor Rajiv Khanna.

Prof Khanna menerangkan sel-sel darah putih memang berfungsi melawan infeksi dan kanker yang bersarang di tubuh seseorang. Namun pada kasus glioblastoma, sel-sel imun di tubuh pasien justru tidak bereaksi terhadap antigen si kanker. 

"Karena sel-sel kanker ada dalam tubuh pasien sendiri, maka sel darah putih merasa ia tak perlu bereaksi karena itu bukanlah sesuatu yang asing, ini adalah reaksi tubuh saya sendiri. Tapi yang tidak mereka sadari, ini sebenarnya adalah kanker yang akan membunuh sel-sel lainnya. Untuk itu yang harus kami lakukan adalah membuat sel-sel imun itu menyadari bahwa sel-sel kanker jauh lebih berbahaya dari dugaan mereka. Itulah yang kami lakukan di lab," papar Prof Khanna seperti dikutip dari ABC Australia, Minggu (11/5/2014).

Hasilnya cukup menjanjikan karena Prof Khanna mengungkapkan empat dari 10 pasien yang ambil bagian dalam percobaan klinis ini dipastikan bebas dari kanker.

Bahkan Prof Khanna mengatakan imunoterapi akan jadi metode pengobatan terdepan pada pasien kanker. "Karena yang Anda gunakan adalah sel imun pasien sendiri, jadi Anda takkan merasakan efek samping bila dibandingkan dengan pengobatan tradisional seperti kemoterapi atau radioterapi. Jauh lebih aman dan lebih spesifik menangani pasien," tegasnya.

[via]

Postingan terkait: